Pengamat: Terorisme Perlu Jadi Agenda Bersama ASEAN
Pengamat pertahanan Susaningtyas Kertopati menilai Indonesia memiliki peran strategis sebagai pendulum atau bridge builder untuk mempererat kerja sama di kawasan ASEAN. Menurutnya, menjelang setengah abad usia ASEAN, stabilitas kawasan relatif aman dan damai, salah satunya ditopang oleh peran Indonesia sebagai pionir serta komitmen pada Piagam ASEAN (ASEAN Charter).
Ia menekankan kompleksitas ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang muncul dalam satu dasawarsa terakhir perlu menjadi perhatian bersama negara-negara ASEAN. Dalam beberapa dekade ke depan, ASEAN diprediksi akan semakin maju dan kuat, sementara stabilitas saat ini dinilai bernilai mahal di tengah ketidakpastian situasi global.
Stabilitas ASEAN di tengah dinamika kawasan
Dalam pandangannya, sejumlah organisasi kawasan lain seperti Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Asosiasi Kerjasama Regional Asia Selatan (SAARC), dan Uni Afrika (African Union/AU) kerap bergejolak dan dilanda krisis. Sebaliknya, ASEAN dinilai relatif stabil, aman, dan damai, meski terdapat “sedikit percikan” di Filipina.
Namun, ia mengingatkan adanya dinamika eksternal yang membayangi kawasan, termasuk meningkatnya pengaruh China di sektor ekonomi, politik, dan ideologi. Ia juga menyoroti penguatan militer China dalam beberapa tahun terakhir yang dikaitkan dengan upaya menjaga Laut China Selatan serta mengamankan jalur sutra maritim abad 21 (maritime silk road) yang digagas Beijing.
Laut China Selatan dan risiko eskalasi
Menurut Susaningtyas, situasi di Laut China Selatan terus memanas. Perseteruan geopolitik antara Amerika Serikat dan China di wilayah tersebut dinilai kerap memicu provokasi, perselisihan, dan pertikaian, seiring perebutan pengaruh di Asia Tenggara.
Ia menilai ASEAN memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama terkait Laut China Selatan. Jika dinamika ini diabaikan, ia memperingatkan bukan tidak mungkin wilayah tersebut menjadi medan perang. Karena itu, ia mendorong adanya solusi agar semangat persatuan ASEAN tidak terkikis.
Terorisme dan kebutuhan respons bersama
Selain isu geopolitik, Susaningtyas juga menyoroti meningkatnya ancaman terorisme, termasuk maraknya ISIS masuk ke wilayah ASEAN, terutama di Filipina. Ia menilai diperlukan kesimpulan yang mapan dan mengikat agar pemberantasan ISIS dapat dilakukan secara holistik.
Ia mendorong penyelenggaraan forum-forum ilmiah antarnegara ASEAN untuk menjaga kohesivitas 10 negara anggota. Menurutnya, kerja sama perlu terus diperkuat untuk menghadapi tantangan keamanan global, khususnya dalam kontra-terorisme dan deradikalisasi.
Fokus Indonesia dalam penanggulangan terorisme
Dalam isu penanggulangan terorisme, Susaningtyas menyebut Indonesia menekankan tiga hal pokok:
- penguatan kerja sama kontra-terorisme;
- penguatan kemampuan unit anti-teror dan counter cyber terrorism;
- pengarusutamaan pendekatan soft power melalui pendidikan, peningkatan peran perempuan, serta pelibatan masyarakat sipil dan organisasi kemasyarakatan serta agama.
Ia menambahkan, dalam perspektif teori gerakan sosial, terorisme tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan ideologis, melainkan juga terkait ketidakseimbangan sosiologis. Ketidakseimbangan tersebut, menurutnya, dapat muncul dalam bentuk deprivasi sosial, kesenjangan ekonomi, dan represi politik.




