Perdana Menteri Israel Paparkan 'Peta Timur Tengah Baru' di Majelis Umum PBB
Sumber Foto: CNN Indonesia
Peta Isu

Perdana Menteri Israel Paparkan 'Peta Timur Tengah Baru' di Majelis Umum PBB

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperkenalkan peta yang dinamakan 'Timur Tengah Baru' saat memberikan pidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada hari Jumat, 22 September. Peta tersebut ditampilkan dalam konteks pembahasan mengenai normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi.

Netanyahu menyatakan bahwa selama beberapa dekade, Israel dikelilingi oleh negara-negara Arab yang bersikap bermusuhan. Ia berpendapat bahwa dengan menghilangkan 'tembok permusuhan', Israel dapat berperan sebagai jembatan untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran antar benua. “Normalisasi hubungan ini antara Israel dan Arab Saudi akan benar-benar menciptakan Timur Tengah yang baru,” ungkap Netanyahu dalam pidatonya yang ditayangkan di situs resmi PBB.

Pada kesempatan tersebut, Netanyahu juga menyoroti keberhasilan Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat, dalam menjalin hubungan diplomatik dengan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, Sudan, dan Bahrain. Ia menggambarkan potensi keuntungan yang dapat diperoleh jika Israel dan Arab Saudi mencapai kesepakatan damai.

“Jika kita dapat berdamai antara Arab Saudi dan Israel, kita akan membawa kemungkinan kemakmuran dan perdamaian ke seluruh Timur Tengah,” tambah Netanyahu. Ia juga menggambarkan jalur yang akan dibangun untuk menghubungkan Asia dengan Israel, yang ditandai dengan spidol merah dari Asia hingga ke Israel.

Netanyahu menjelaskan rencana untuk membangun 'koridor kemakmuran baru' yang akan menghubungkan Asia melalui Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Israel, hingga Eropa, dan menyebutnya sebagai perubahan yang luar biasa.

Isu normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi menjadi topik hangat belakangan ini. Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyatakan dalam wawancara dengan media Amerika Serikat bahwa normalisasi tersebut semakin mendekat. “Setiap hari, kami kian dekat,” ucap MbS kepada Fox News pada 20 September.

MbS juga menekankan pentingnya isu Palestina bagi Saudi dan menyatakan bahwa pemerintah Riyadh perlu menyelesaikan persoalan tersebut. “Kami harus melihat ke mana kami melangkah. Kami berharap ini bisa mencapai suatu titik, meringankan kehidupan rakyat Palestina, dan menjadikan Israel sebagai pemain di Timur Tengah,” ujarnya.

Di lain pihak, Netanyahu menyatakan bahwa upaya normalisasi ini berada dalam jangkauan mereka dan menargetkan agar kesepakatan dapat tercapai pada tahun 2024.