Rupiah Melemah ke Rp16.955, Menkeu Tegaskan Tidak Terkait Isu Thomas Djiwandono
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak ada hubungannya dengan kabar tentang Thomas Djiwandono yang disebut-sebut sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pada penutupan perdagangan hari Senin, 19 Januari 2026, rupiah tercatat melemah ke level Rp16.955 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 0,40 persen. Meskipun demikian, Purbaya menyoroti bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami penguatan, mencapai level tertinggi sepanjang masa di angka 9.133, dengan kenaikan sebesar 0,64 persen.
Menurut Purbaya, penguatan IHSG menunjukkan adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik. "Kalau indeks naik, itu pasti ada flow asing yang masuk. Tidak mungkin domestik sendiri yang mendorong ke level yang tinggi seperti itu," ujarnya saat wawancara di Kompleks DPR RI.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan keyakinannya bahwa rupiah akan kembali menguat, dengan bertambahnya pasokan dolar di pasar. "Pelemahan rupiah ini tidak mencerminkan tekanan terhadap fundamental ekonomi nasional. Kita tinggal menunggu waktu, karena supply dolar akan bertambah," tambahnya.
Purbaya juga menepis spekulasi mengenai dampak isu Thomas Djiwandono terhadap independensi BI. Ia menilai bahwa kabar tersebut bersifat spekulatif dan tidak berpengaruh signifikan. "Saya pikir independensi BI tidak akan terganggu. Ini hanya spekulasi," tegasnya.
Sebagai langkah untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan terus menjaga likuiditas sistem keuangan, memastikan belanja negara berjalan sesuai target, serta memperbaiki iklim investasi melalui kolaborasi dengan BI dan Kementerian Keuangan. "Semua aspek, mulai dari supply, demand, iklim investasi, kebijakan moneter, hingga kebijakan fiskal, kami jalankan secara sinergis," pungkasnya.




