SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Serukan Peran Aktif Indonesia
Sumber Foto: Radar Tulungagung
Internasional

SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Serukan Peran Aktif Indonesia

RADAR TULUNGAGUNG – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dunia saat ini berada dalam fase yang rawan konflik besar.

Dalam kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas), SBY menyoroti meningkatnya eskalasi geopolitik global yang berpotensi memicu perang dunia ketiga apabila tidak dikelola secara bijak oleh negara-negara besar.

Peringatan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan SBY di tengah memanasnya berbagai konflik internasional yang berlangsung bersamaan di sejumlah kawasan strategis dunia.

SBY menilai tanda-tanda ketidakstabilan global kini semakin nyata dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

Menurutnya, konflik yang terjadi saat ini bukan lagi berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan berpotensi menciptakan efek domino berbahaya bagi keamanan internasional.

Ketegangan Asia hingga Ancaman Nuklir

Dalam paparannya, SBY menyoroti kawasan Asia sebagai salah satu titik panas geopolitik dunia.

Ketegangan di Laut China Selatan, dinamika hubungan antara China dan Taiwan, hingga situasi di Semenanjung Korea dinilai memiliki risiko eskalasi militer yang serius.

Ia menilai konflik tersebut berpotensi melibatkan kekuatan besar dunia apabila tidak segera diredam melalui diplomasi internasional.

Selain konflik konvensional, SBY juga menyinggung ancaman penggunaan senjata nuklir yang semakin sering menjadi bagian dari retorika politik global.

Risiko ini dinilai jauh lebih berbahaya dibanding konflik regional biasa karena dampaknya bisa meluas lintas negara.

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menyampaikan bahwa SBY menekankan pentingnya membaca tanda-tanda zaman secara cermat.

Dunia, kata dia, tengah menghadapi situasi yang membutuhkan kewaspadaan kolektif.

Eropa dan Timur Tengah Jadi Sorotan

Tidak hanya Asia, kawasan Eropa juga menjadi perhatian utama. Perang antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung dinilai memicu instabilitas berkepanjangan.

Konflik tersebut berdampak luas terhadap ekonomi global, energi, hingga keamanan kawasan Atlantik dan sekitarnya.

Sementara di Timur Tengah, SBY menyoroti konflik Palestina–Israel yang kembali memanas.

Ketegangan antara Israel dan Iran, serta keterlibatan negara besar seperti Amerika Serikat, disebut memperbesar potensi konflik terbuka.

Menurutnya, jika eskalasi tidak terkendali, konflik regional dapat berubah menjadi konfrontasi global yang melibatkan banyak aliansi militer.

SBY bahkan menyinggung isu Greenland sebagai contoh bagaimana wilayah strategis kini menjadi bagian dari persaingan geopolitik baru antarnegara.

Indonesia Diminta Aktif Mendorong Perdamaian

Dalam kuliah umum tersebut, SBY menegaskan Indonesia tidak boleh bersikap pasif menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Ia menilai diplomasi aktif harus menjadi pilihan utama, terutama dengan menjaga komunikasi strategis bersama kekuatan dunia seperti Tiongkok dan Rusia.

Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara memberi peluang untuk berperan sebagai jembatan dialog dan penjaga stabilitas kawasan.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton,” tegasnya.

Pendekatan diplomasi damai, lanjut SBY, harus tetap dikedepankan agar konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka yang merugikan banyak negara berkembang.

Pentingnya Kewaspadaan Nasional

Selain peran diplomasi luar negeri, SBY juga mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan nasional.

Situasi global yang tidak menentu dinilai bisa berdampak langsung terhadap ekonomi, keamanan pangan, hingga stabilitas sosial dalam negeri.

Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan nasional harus dibangun melalui kerja sama lintas sektor, mulai dari pertahanan, ekonomi hingga teknologi.

SBY berharap Indonesia mampu menjaga stabilitas domestik sekaligus berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia.

Di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan global, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa konflik besar sering kali diawali oleh eskalasi kecil yang diabaikan.

Kuliah umum di Lemhannas itu sekaligus menjadi refleksi bahwa dunia saat ini berada pada titik krusial, di mana diplomasi, kepemimpinan global, dan kewaspadaan nasional menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih besar.