Serangan Epistemik Quraisy: Tiga Pertanyaan yang Menguji Kenabian Muhammad
Sumber Foto: Muhammadiyah
Hiburan

Serangan Epistemik Quraisy: Tiga Pertanyaan yang Menguji Kenabian Muhammad

Kaum Quraisy memulai serangan epistemik setelah berbagai upaya gagal menghentikan dakwah Islam. Serangan tersebut berupa tiga pertanyaan krusial yang dirancang untuk menjebak Sang Nabi dalam labirin pengetahuan yang dianggap mustahil dikuasainya. Mereka ingin membuktikan bahwa orang yang mengaku menerima wahyu itu sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Bagaimana pertanyaan epistemik ini bisa muncul? Kita perlu melihat lanskap sosial keagamaan di Mekkah abad ke-7. Pada masa itu, penduduk Mekkah masih mewarisi ajaran Nabi Ibrahim seperti keyakinan soal Tanah Haram, Bulan-Bulan Haram, dan sakralitas Ka’bah. Nama Allah juga masih dikenal. Hanya saja konsep wahyu dan kenabian telah menghilang dari ingatan kolektif bangsa Arab. Mereka lebih mengenal dewa-dewa batu daripada mengenal sosok-sosok nabi.

Jika pada masa itu kamu berjalan menyusuri pasar Mekkah dan berbincang dengan penduduk setempat, mereka bisa menjelaskan dengan fasih siapa itu Latta dan ‘Uzza, lengkap dengan kisah-kisah lokal yang melingkupinya. Namun ketika kamu bertanya tentang bagaimana Musa membelah laut atau seperti apa ketampanan Yusuf, mereka hanya saling pandang. Nama-nama itu asing bagi mereka.

Di belahan lain Jazirah Arab, situasinya berbeda. Umat Yahudi dan Nasrani masih menyimpan catatan kenabian. Mereka mengenal kisah Musa, Daud, Sulaiman, Yunus. Meski teks-teks itu telah mengalami penyimpangan, tradisi kenabian belum benar-benar padam. Maka ketika Muhammad muncul dan mengaku telah membawa wahyu, Quraisy meminjam otoritas dari kalangan Ahli Kitab.

Kalangan elite Quraisy memberikan modal yang cukup besar untuk mengutus Uqbah bin Abi Mu’its dan Nadr bin Harits ke Yastrib. Menempuh perjalanan panjang menuju Yastrib, keduanya harus menemui rabbi-rabbi Yahudi untuk meminjam senjata intelektual. Senjata yang diharapkan bisa menjatuhkan risalah dan moral Muhammad.

Setelah berkonsultasi, ‘Uqbah dan Nadr membawa pulang senjata itu ke Mekkah dengan penuh keyakinan. Sebab seorang rabbi Yahudi sendiri berkata, “Tidak ada yang mengetahui jawaban tiga pertanyaan ini kecuali nabi yang benar.” Ketiga pertanyaan tersebut sebagai berikut:

Pertanyaan pertama tentang sekelompok pemuda yang tidur dalam gua selama waktu yang sangat panjang.

Pertanyaan kedua tentang sosok pengelana misterius yang melintasi timur dan barat hingga menjadi legenda di banyak budaya.

Pertanyaan ketiga tentang hakikat ruh, misteri yang bahkan para ahli kitab sendiri anggap tak tersentuh pengetahuan manusia.

Bagi Quraisy, tiga pertanyaan ini seperti jebakan sempurna.

Tatkala ketiga pertanyaan itu diajukan, Nabi menjawab, “Aku akan memberitahumu besok.” Namun karena beliau yakin Allah akan menurunkan wahyu, beliau lupa mengucapkan insyāAllāh. Akibatnya, wahyu tidak turun keesokan harinya. Tidak juga lusa. Bahkan sampai satu minggu wahyu tak kunjung turun.

Kondisi ini justru menguntungkan posisi Quraisy. Mereka tidak membutuhkan jawaban. Yang mereka inginkan adalah kegagalan. Mereka menjadikan keterlambatan itu sebagai bahan olok-olok: “Muhammad berjanji akan memberi jawaban besok. Dua minggu sudah berlalu, tetapi ia tak membawa apa pun!” Bagi mereka, ketiadaan jawaban adalah bukti bahwa risalah yang dibawa Muhammad hanyalah rekayasa.

Dalam pikiran sebagian orang sampai hari ini, penundaan sampai dua minggu itu dianggap sebagai tindakan “ngeles”. Dalam rentang dua pekan itu barangkali dijadikan kesempatan Nabi untuk mencari-cari jawaban, bahkan sebagai peluang untuk berkonsultasi secara diam-diam dengan komunitas Yahudi. Anggapan ini terdengar masuk akal bagi mereka yang tidak memahami konteks sosial Mekkah. Jika ditelaah lebih dalam, anggapan ini memiliki beberapa kejanggalan.

Pertama, Nabi menjadi pusat perhatian publik sejak awal dakwah. Seluruh geraknya diawasi. Mekkah pada masa itu berfungsi seperti kota dagang yang dibangun di atas jaringan gosip. Artinya, setiap langkah tokoh penting langsung menyebar. Konsultasi rahasia dengan ahli kitab nyaris mustahil terjadi tanpa publik mengetahuinya. Jika benar terjadi, Quraisy tentu menjadikannya senjata utama untuk menyerang klaim kenabian.

Kedua, Nabi tidak memiliki relasi pribadi dengan komunitas Yahudi pada masa awal dakwah. Beliau tidak pernah tinggal di permukiman Yahudi, tidak memiliki kenalan serta besar kemungkinan tidak pernah berbincang dengan rabbi mana pun sebelum hijrah. Jalur dagang beliau ke Syam pun tidak melibatkan interaksi intens dengan komunitas Yahudi.

Ketiga, Nabi tidak memiliki akses langsung terhadap detail sejarah kenabian. Masyarakat Mekkah kehilangan tradisi tekstual. Kota ini tidak memiliki manuskrip Ibrani, lembaga pendidikan agama, atau tradisi literasi kitab suci. Quraisy sendiri yang menjadi musuh Nabi harus menempuh perjalanan panjang untuk bertanya kepada rabbi Yahudi. Jika informasi itu mudah diperoleh, mereka tak perlu jauh-jauh pergi ke Yatsrib.

Keempat, dan yang paling menentukan, adalah sifat dari jawaban yang akhirnya turun. Narasi tentang Ashabul Kahfi yang diwahyukan mengandung detail-detail yang tidak ditemukan dalam versi manapun dari literatur Yahudi atau Kristen yang ada saat itu. Jawaban kedua, sosok pengelana dunia itu disebut sebagai Dzulqarnain, tokoh yang dikenal banyak peradaban, bukan sekadar figur lokal.

Lebih menohok lagi, mengenai hakikat ruh, wahyu tidak memberikan jawaban teknis seperti yang diharapkan qarib Yahudi. Jawaban wahyu adalah bahwa hakikatnya adalah rahasia ilahi, “ Ruh itu urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al-Isra: 85). Kaum Yahudi tahu persis bahwa hakikat ruh adalah misteri yang tidak terpecahkan oleh manusia. Jawaban Ilahi justru menegaskan batas pengetahuan manusia dan sekaligus memvalidasi otoritas sumber wahyu, karena wahyu tersebut memberikan jawaban yang lebih unggul (untuk dua pertanyaan pertama) dan jawaban yang membongkar jebakan (untuk pertanyaan ketiga) daripada yang dimiliki oleh para penanya itu sendiri.

Pada akhirnya, tiga pertanyaan itu gagal mematahkan klaim kenabian Muhammad. Kegagalan intelektual itu membuat kaum Quraisy, setelah serangan epistemik mereka kandas, beralih pada opsi yang selalu menjadi jalan terakhir para tiran: kekerasan fisik dan penyiksaan terhadap para sahabat yang lemah.

Suatu ketika pada waktu senggang, Sa‘id ibn Jubair pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas tentang sejauh mana penyiksaan itu, dan beliau menjawab, “Pada masa-masa awal Islam, kaum beriman disiksa sangat berat hingga mereka tidak diberi makan dan minum, sampai mereka bahkan tidak mampu duduk tegak.”

Ibn Hisyam, al-Sīrah al-Nabawiyyah.

Ibn Ishaq, al-Sīrah al-Nabawiyyah.

Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, vol. 5, hlm. 124.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.