Serial 'World War 3' Dibatalkan Karena Terlalu Mirip dengan Kenyataan
Sumber Foto: Mureks
Hiburan

Serial 'World War 3' Dibatalkan Karena Terlalu Mirip dengan Kenyataan

Serial fiksi ilmiah berjudul World War 3, yang awalnya digarap oleh veteran X-Men dan Metal Gear Solid, David Hayter, bersama Leslie Greif dari Hatfields & McCoys, akhirnya resmi dibatalkan. Pembatalan ini terjadi 13 tahun setelah proyek tersebut pertama kali diumumkan, dengan alasan yang cukup mengejutkan: dianggap terlalu realistis dan berpotensi memicu kontroversi.

Fakta Cepat Pembatalan Serial ‘World War 3’

Serial fiksi ilmiah berjudul ‘World War 3’ secara resmi dibatalkan.

Pembatalan ini terjadi setelah proyek tersebut tertunda selama kurang lebih 13 tahun.

Alasan utama pembatalan adalah plot ceritanya yang dinilai terlalu realistis dan berpotensi terjadi di dunia nyata.

Pengembangan serial ini melibatkan nama-nama seperti David Hayter dan Leslie Greif.

Jaringan seperti FX dan Fox sebelumnya terlibat dalam rencana produksi serial ini.

Leslie Greif, produser yang juga dikenal lewat miniseri historis Texas Rising dan The Offer, mengonfirmasi kabar ini dalam sebuah wawancara dengan Liam Crowley dari ScreenRant. Greif, yang kini tengah fokus pada serial Western historis terbarunya, The Gray House, menjelaskan bahwa proyek World War 3 tidak akan dilanjutkan.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Alasan Pembatalan: Terlalu Mirip Realita

Menurut Greif, alasan utama pembatalan adalah karena serial tersebut “terlalu menakutkan” untuk dikembangkan saat ini. “Itu menjadi terlalu dekat dengan kenyataan,” ujar Greif. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak jaringan, FX dan Fox, merasa ide-ide yang ia dan Hayter ajukan “terlalu menghasut.”

“Jaringan mengatakan mereka merasa itu terlalu menghasut,” kata Greif, menambahkan bahwa ide-ide mereka dianggap “terlalu mungkin dan masuk akal secara menakutkan.” Catatan Mureks menunjukkan, kekhawatiran ini muncul di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Meskipun berpotensi memicu respons yang panas, Greif menegaskan bahwa tujuan utama serial ini justru “untuk menyebarkan harapan” di seluruh negeri. Ia mengaku memiliki keprihatinan terhadap Amerika Serikat dan “ingin kita bersatu sebagai sebuah negara.”

Greif bahkan membocorkan bahwa salah satu karakter dalam serial tersebut akan menutup cerita dengan kutipan tentang harapan, diiringi lagu Willie Nelson yang mengusung pesan serupa. “Di akhir cerita kami, karakter Ben berkata, ‘Kami mengandalkanmu, Tuan Lincoln. Kami punya banyak harapan, dan kami tidak boleh kehilangan harapan itu.’ Di akhir miniseri ini, Willie Nelson menyanyikan lagu berjudul The Heart of America, yang saya harap menjadi lagu kebangsaan untuk abad ini dan untuk negara ini, karena kita perlu bersatu sebagai satu dan memiliki harapan. Itu terlalu dekat dan semua subplot hampir terlalu dekat. Jadi mari kita tenang. Mari kita tenangkan suasana dan saling berpelukan,” tutur Greif.

Genre Fiksi Ilmiah dan Realitas

Penjelasan Greif mengenai pembatalan serial World War 3 ini cukup mengejutkan, mengingat genre fiksi ilmiah seringkali dikenal karena kemampuannya memprediksi masa depan berdasarkan peristiwa dunia saat ini. Karya-karya seperti 2001: A Space Odyssey yang memprediksi evolusi teknologi, atau Her yang mengeksplorasi ketergantungan manusia pada AI untuk interaksi sosial, menunjukkan bagaimana genre ini mengambil konsep dunia nyata dan membawanya ke ekstrem untuk menyoroti potensi bahayanya.

Y: The Last Man, misalnya, memiliki paralel yang mencolok dengan pandemi COVID-19 saat tayang perdana pada September 2021. Demikian pula, Devs karya Alex Garland mengeksplorasi bahaya area abu-abu yang terus berkembang antara kemanusiaan dan teknologi di Silicon Valley.

Meskipun Greif dan Hayter tidak dapat melanjutkan konsep World War 3 mereka, hal ini tidak menghentikan pembuat film lain untuk mengangkat tema serupa selama dekade terakhir. Alex Garland sendiri mengeksplorasi pandangan hipotetis tentang perang skala penuh yang melibatkan Amerika Serikat dalam latar modern melalui film Civil War. Sementara itu, adaptasi serial Fallout dari Prime Video, yang diangkat dari gim aslinya, menyoroti dampak perang nuklir skala penuh di seluruh dunia.

Dengan berbagai karya seperti Tenet karya Christopher Nolan hingga waralaba Mission: Impossible yang juga menampilkan protagonis berlomba mencegah konflik semacam itu, pintu mungkin belum sepenuhnya tertutup bagi Greif untuk menghidupkan kembali serial World War 3 -nya di masa depan. Perubahan lanskap sosiopolitik sejak ia dan Hayter pertama kali menggarap serial ini mungkin memungkinkan mereka menemukan sudut pandang baru yang dapat mewujudkan tujuan mereka untuk persatuan dan percakapan penting.