Tiga Krisis Global: Ancaman Pangan, Energi, dan Keuangan Membayangi Ekonomi Indonesia
Sumber Foto: CNBC Indonesia
Indeks Isu

Tiga Krisis Global: Ancaman Pangan, Energi, dan Keuangan Membayangi Ekonomi Indonesia

Indonesia dinilai menghadapi tiga ancaman utama dari sisi pangan, energi, dan keuangan setelah melewati fase krisis pandemi Covid-19. Risiko tersebut berkaitan dengan ketidakpastian global yang dipengaruhi perubahan cuaca (climate change) dan gejolak geopolitik, yang berdampak pada rantai pasok (supply chain) serta mendorong kenaikan harga pangan, energi, dan berbagai produk maupun jasa.

Indeks ketidakpastian global pada kuartal II 2023 tercatat 30,70. Angka ini menunjukkan dunia masih berhadapan dengan tantangan besar yang menuntut kewaspadaan negara-negara terhadap potensi volatilitas. Meski demikian, tingkat ketidakpastian tersebut lebih rendah dibanding kuartal I 2020 yang mencapai 55,68. Dana Moneter Internasional (IMF) juga mencatat penurunan ketidakpastian global dari 2021 ke 2022, sementara pada 2023 dipengaruhi antara lain oleh perang di Ukraina serta kompleksitas dinamika perdagangan internasional.

Tekanan global: pertumbuhan rendah, inflasi tinggi, dan suku bunga ketat

Menurut The Economist Intelligence, perekonomian dunia pada 2023 menghadapi kombinasi pertumbuhan ekonomi rendah, inflasi tinggi, dan pengetatan moneter termasuk suku bunga tinggi. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat akselerasi pemulihan ekonomi global.

Di dalam negeri, Indonesia disebut telah berhasil melewati krisis Covid-19 yang berdampak besar baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Pemerintah menjaga daya tahan ekonomi melalui upaya menopang daya beli masyarakat rentan serta mendukung pembiayaan dan keberlangsungan UMKM. Namun, situasi global masih menuntut kewaspadaan karena perang Rusia–Ukraina belum berakhir.

Gangguan pasokan pangan dari Laut Hitam dan dampaknya

Ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina dinilai terus memengaruhi ketidakstabilan harga komoditas pangan dan energi. Salah satu faktor yang disorot adalah keputusan Rusia pada 17 Juli 2023 untuk menarik diri dari kesepakatan Black Sea Grain Initiative, sebuah mekanisme yang difasilitasi PBB untuk membuka jalur ekspor biji-bijian Ukraina melalui Laut Hitam.

Kesepakatan tersebut disebut telah menjamin lebih dari 32 metrik ton komoditas pangan keluar dari pelabuhan Ukraina, termasuk pengiriman 725 ribu ton untuk tujuan kemanusiaan ke sejumlah wilayah seperti Afghanistan, Afrika, dan Yaman. Gagalnya kesepakatan ini berpotensi menghambat pasokan lebih dari 10 juta ton makanan ke berbagai negara.

Data PBB (2023) menunjukkan komoditas yang banyak diekspor melalui skema tersebut antara lain jagung (51%) dan gandum (27%). Komisi Eropa menyebut Ukraina berkontribusi sekitar 10% pasar gandum, 15% jagung, dan 50% perdagangan minyak nabati berbahan baku bunga matahari (sunflower oil) dunia. Gangguan pada pasokan ini berpotensi mendorong kenaikan harga pangan, memicu inflasi di sejumlah negara, dan pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi global seiring respons kebijakan suku bunga yang lebih tinggi.

Dampak bagi Indonesia: impor gandum dan jagung tertekan harga global

Indonesia diperkirakan terdampak dari kenaikan harga pangan global, khususnya gandum dan jagung. Harga gandum sejak 17 Juli 2023 tercatat US$650 per bushel, naik US$63 atau 10% dibanding harga pada 24 Juli 2023 sebagaimana disebutkan dalam data pada naskah. Sementara harga jagung naik dari US$497 per bushel pada 17 Juli 2023 menjadi US$534 per bushel pada 24 Juli 2023, atau meningkat 7,5%.

Meski impor gandum Indonesia disebut 52% berasal dari Australia, pergerakan harga global berpotensi menekan biaya impor. Untuk jagung, sumber impor terbesar berasal dari Argentina, Brasil, Amerika Serikat, dan Thailand.

Selain itu, harga sunflower oil disebut naik 5,54% dalam rentang waktu yang sama. Kenaikan ini berpotensi mendorong harga CPO yang juga tercatat naik 2,88% sejak 17 Juli 2023 hingga 24 Juli 2023. Kondisi tersebut dapat menguntungkan Indonesia mengingat CPO merupakan produk unggulan, dengan total ekspor kumulatif Januari–Mei mencapai 9,13 juta ton. Namun, kenaikan harga juga perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng di dalam negeri. Tekanan harga gandum dan jagung disebut berpotensi diperparah oleh ancaman El Nino pada tahun ini.

Risiko energi: harga minyak masih tinggi dan bisa berbalik naik

Dari sisi energi, harga minyak dunia yang sempat mencapai US$120 per barel akibat sentimen perang Rusia–Ukraina telah terkoreksi menjadi US$76,47 per barel pada 24 Juli 2023. Meski turun, level tersebut masih lebih tinggi dibanding harga minyak mentah sebelum pandemi yang berada pada kisaran US$43–60 per barel. Dalam skenario terburuk, harga minyak disebut berpotensi kembali naik pada rentang US$120–140 per barel.

Arah kebijakan global dan kewaspadaan domestik

Dengan tekanan harga pangan dan energi, mayoritas negara diperkirakan akan melakukan pengetatan moneter dan proteksionisme ekonomi. Boston Consulting meramalkan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi akan melambat selama sembilan tahun mendatang, dengan pertumbuhan perdagangan diprediksi 2,3% hingga 2031. Dinamika perdagangan global disebut dipengaruhi oleh perekonomian Rusia, kompleksitas perdagangan China, Amerika Serikat, dan Eropa, serta pertumbuhan perdagangan di ASEAN.

Ketidakpastian global tersebut dinilai perlu menjadi perhatian, terutama di tahun politik, karena kenaikan harga pangan dapat memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi domestik. Sejumlah strategi yang disorot meliputi peningkatan penggunaan pangan lokal, percepatan energi baru terbarukan (EBT), serta akselerasi transisi ke kendaraan listrik untuk mengurangi dampak lonjakan harga pangan dan energi global.