Wall Street Menguat di Tengah Harapan Deeskalasi Konflik Iran
Bursa saham Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Wall Street, mengalami penguatan signifikan pada hari Selasa, 31 Maret 2023. Kenaikan ini dipacu oleh spekulasi mengenai potensi deeskalasi konflik di Iran, yang belakangan ini telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan inflasi global.
Performa Indeks Utama
Indeks S&P 500 mencatat kenaikan sebesar 2,91 persen, ditutup pada level 6.528,52. Sementara indeks Nasdaq Composite mengalami penguatan 3,83 persen ke level 21.590,63, dan Dow Jones Industrial Average naik 2,49 persen menjadi 46.341,51. Ketiga indeks tersebut menguat setelah laporan dari The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump bersedia untuk mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.
Pernyataan Pejabat AS dan Dampaknya
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam konflik Iran, dan menegaskan bahwa perang dapat meningkat jika tidak ada kesepakatan. Konflik yang telah berlangsung selama sebulan terakhir ini telah menyebabkan S&P 500 dan Dow mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2022, di tengah kekhawatiran investor mengenai lonjakan biaya bahan bakar yang dapat menekan permintaan barang dan jasa, serta memaksa Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga demi menahan inflasi.
Reaksi Pasar dan Sektor Terkait
Direktur investasi senior di U.S. Bank Wealth Management, Bill Northey, menyatakan bahwa pergerakan pasar saat ini mencerminkan spekulasi tentang kemungkinan resolusi yang lebih cepat atau penghentian konflik. Ia menambahkan bahwa meskipun rincian masih terbatas, pasar berharap akan ada indikasi normalisasi aliran energi melalui Selat Hormuz.
Saham-saham teknologi besar mencatat kenaikan signifikan, dengan Nvidia naik 5,6 persen, Alphabet bertambah 5,1 persen, dan Meta Platforms melonjak 6,7 persen. Indeks semikonduktor PHLX Semiconductor Index juga mencatat kenaikan 6,24 persen, menandai sesi terbaiknya dalam hampir setahun.
Volume dan Sektor yang Berperforma Baik
Volume perdagangan di bursa AS tergolong tinggi, dengan 22,4 miliar saham diperdagangkan, melampaui rata-rata 20,3 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya. Sebanyak 9 dari 11 sektor di S&P 500 mengalami penguatan, dengan sektor layanan komunikasi memimpin kenaikan sebesar 4,42 persen, diikuti oleh sektor teknologi informasi yang menguat 4,24 persen. Namun, sektor energi mengalami penurunan sebesar 1,2 persen, meskipun masih mencatat kenaikan sekitar 10 persen sepanjang bulan Maret.
Kinerja Kuartalan dan Saham Terkait
Sepanjang kuartal pertama, S&P 500 tercatat turun 4,6 persen secara year-to-date, sementara Nasdaq melemah 7,1 persen dan Dow turun 3,6 persen. Saham CoreWeave mengalami lonjakan 12 persen setelah mendapatkan pinjaman sebesar USD 8,5 miliar untuk ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan, sementara Marvell Technology juga naik 12 persen setelah Nvidia menginvestasikan USD 2 miliar di perusahaan tersebut.
Di sisi lain, banyak saham teknologi menghadapi tekanan sepanjang tahun 2026 akibat kekhawatiran bahwa perusahaan besar seperti Microsoft, Amazon, dan Alphabet membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan hasil dari investasi besar mereka di sektor AI.
Data Ekonomi dan Proyeksi Masa Depan
Data pemerintah AS menunjukkan adanya penurunan lowongan kerja yang lebih besar dari perkiraan pada bulan Februari, sementara angka perekrutan mencapai level terendah dalam hampir enam tahun. Menurut alat Fedwatch milik CME Group, lonjakan harga minyak yang disebabkan oleh konflik Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi, dengan pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve lebih cenderung untuk menaikkan suku bunga hingga akhir tahun dibandingkan menurunkannya.
Pergerakan Saham Korporasi
Di sisi korporasi, Unilever sepakat untuk memisahkan unit makanannya dan menggabungkannya dengan McCormick dalam kesepakatan tunai dan saham yang menilai perusahaan rempah tersebut sekitar USD 44,8 miliar. Namun, saham McCormick turun 6,1 persen. Constellation Energy juga melemah 6,5 persen setelah memproyeksikan laba 2026 di bawah ekspektasi Wall Street.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami kenaikan di S&P 500 lebih banyak dibandingkan yang mengalami penurunan dengan rasio 5,2 banding 1. Indeks tersebut mencatat 6 saham mencapai level tertinggi baru dan 8 saham mencapai level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 37 saham mencapai level tertinggi baru dan 154 saham menyentuh level terendah baru.




