Kaltim Tingkatkan Kolaborasi untuk Atasi Sampah Plastik di Laut
RRI.CO.ID, Samarinda — Permasalahan sampah plastik masih menjadi isu utama di sektor kelautan Indonesia. Kondisi ini turut menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur dalam pengelolaan ruang laut dan kawasan pesisir.
Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Yuliana Nidasari, menyampaikan Indonesia menempati peringkat kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China.
“Benar. Permasalahan utama ya Indonesia itu peringkat kedua sampah plastik setelah Cina di dunia. Kalau sampah plastik itu tertinggi Se-Asia. Tapi kalau sampah secara umum itu peringkat kelima loh Indonesia,” ujarnya dalam obrolan SPADA dikutip Jumat, 17 April 2026.
Ia menilai posisi tersebut bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Kontribusi besar terhadap sampah global justru menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
“Walaupun bukan nomor satu tapi lima dunia itu tetap mengerikan, kontribusinya itu bukan suatu kebanggaan sebenarnya. Indonesia itu termasuk penyumbang sampah plastik peringkat kedua terbesar setelah Cina tadi,” katanya.
Sebagai upaya penanganan, Kementerian Kelautan dan Perikanan meluncurkan program Bulan Cinta Laut yang dilaksanakan setiap tahun. Program ini melibatkan nelayan untuk turut membersihkan sampah saat melaut.
“Jadi solusinya ya oleh Kementerian Kelautan karena ini merupakan program prioritas juga. Jadi kementerian itu ada meluncurkan namanya program Bulan Cinta Laut. Bulan Cinta Laut ini dilakukan satu tahun sekali,” ucapnya.
Di tingkat daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur menjalankan gerakan bersih pantai di kawasan pesisir dengan melibatkan masyarakat dan pelajar sekaligus memberikan edukasi pengelolaan sampah.
“Kalau kita di daerah, gerakan bersih pantai itu yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Selama ini kita mengajak masyarakat sekitar kawasan pesisir, kemudian anak-anak sekolah. Itu sekaligus kita melakukan edukasi kepada mereka,” ujarnya.
Edukasi difokuskan pada pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari lingkungan rumah tangga, termasuk pengenalan dampak sampah plastik yang sulit terurai.
Yuliana menegaskan penanganan sampah tidak dapat dibebankan pada pemerintah semata. Peran masyarakat dinilai krusial karena sumber sampah banyak berasal dari aktivitas rumah tangga.
“Jadi sebenarnya tanggung jawab semua pihak ya, bukan pemerintah tapi juga masyarakat juga kita ajak. Karena kan memang sampah rumah tangga ya dari kita juga masyarakat kan,” katanya.
Ia turut mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan laut, termasuk inisiatif pembentukan bank sampah di berbagai daerah.
“Upaya pemerintah itu sebenarnya sudah banyak ya. Contohnya dari masyarakat sendiri pun sebenarnya kesadaran mereka sudah cukup tinggi. Contohnya saja di beberapa kabupaten kota itu ada mereka mendirikan lembaga bank sampah,” ujarnya.
Salah satu contoh keberhasilan terlihat dari kerja sama dengan Bank Sampah Kota Hijau Balikpapan yang pernah meraih peringkat pertama tingkat nasional.
“Contoh nih ya misalnya yang sudah kita laksanakan kemarin kerja sama dengan Bank Sampah Kota Hijau Balikpapan. Jadi Bank Sampah Kota Hijau Balikpapan ini pernah meraih peringkat pertama nasional,” katanya.




