Mediator Pakistan Dorong Dialog AS-Iran dengan Fokus Tiga Isu Kunci
KOMPAS.com - Upaya melanjutkan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus diintensifkan setelah perundingan di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu berakhir buntu.
Para mediator kini berupaya membuka kembali jalur dialog kedua negara, dengan mendorong pembahasan pada tiga isu utama yang dinilai menjadi hambatan terbesar dalam mencapai kesepakatan.
Isu-isu itu termasuk program nuklir Iran, kendali atas Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Mengutip laporan Al Jazeera, Rabu (15/4/2026), Iran menyatakan terbuka untuk membahas jenis dan tingkat pengayaan uranium. Namun, Teheran menegaskan tetap ingin melanjutkan program tersebut sesuai kebutuhannya.
Sumber yang sama menyebut mediator dari Pakistan optimistis peluang terobosan, khususnya dalam isu nuklir, masih terbuka.
Potensi penentang
Meski demikian, peluang kesepakatan masih dibayangi berbagai tantangan.
Jurnalis Al Jazeera, Osama Bin Javaid, melaporkan terdapat pihak-pihak yang menentang kesepakatan di kedua kubu, baik di Teheran maupun Washington DC.
Bahkan, menurut sumber mediator, Israel disebut sebagai salah satu pihak yang paling tidak menginginkan tercapainya kesepakatan dan justru mendorong konflik berlanjut di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, peluang digelarnya perundingan putaran kedua pun diyakini masih terbuka.
Delegasi Pakistan yang dipimpin Kepala Angkatan Darat, Asim Munir, telah tiba di Teheran untuk membahas kemungkinan lanjutan negosiasi.
Utusan ini disebut membawa pesan baru dari pihak AS, sekaligus membahas pengaturan pertemuan berikutnya setelah perundingan pertama tidak menghasilkan kesepakatan.
Upaya ini juga melibatkan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi, sementara Perdana Menteri Shehbaz Sharif tengah melakukan kunjungan ke kawasan Teluk untuk menghimpun dukungan regional.
Baca juga:
Upaya diplomasi Pakistan di tengah blokade
Ketegangan antara kedua belah pihak sejatinya tengah memanas menyusul tindakan saling blokade antara AS dan Iran.
Situasi ini juga terjadi menjelang berakhirnya masa gencatan senjata yang berlaku selama dua pekan.
Di saat yang sama, muncul pula tanda-tanda kemajuan menuju kesepakatan penghentian perang yang telah menewaskan 3.000 orang di Iran dan meluas ke Timur Tengah.
Dalam kondisi tersebut, diplomasi intensif Pakistan dijalankan.
“Desakan situasi ini dipicu oleh berakhirnya gencatan senjata pada 22 April, dan para pejabat Pakistan berharap mereka bisa memperpanjangnya,” kata jurnalis Al Jazeera, Kimberly Halkett, dari Islamabad.
Lebih lanjut, ia mengatakan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif akan berusaha untuk menghimpun dukungan regional.
"Supaya dapat mendorong AS kembali ke meja perundingan dengan Iran dan memastikan tidak terjadi pelanggaran jalur diplomatik," katanya.
Kapan perundingan putaran kedua akan dilaksanakan?
Belum diketahui kapan kemungkinan perundingan putaran kedua antara AS dan Iran dilangsungkan.
BBC pada Rabu melaporkan, Iran menyebut komunikasi dengan AS masih terus berlangsung lewat mediator Pakistan.
Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan secara terpisah kepada BBC bahwa diskusi perpanjangan gencatan senjata masih berlangsung saat ini.
Namun, kemungkinan pembicaraan lanjutan di Iran akan dilaksanakan di Islamabad, berdasarkan pernyataan Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
"Kami merasa optimistis dengan peluang tercapainya kesepakatan,” ujarnya kepada awak media pada Rabu.
Lihat Foto
Optimisme AS soal peluang kesepakatan
Sementara itu, Predisen AS Donald Trump mengatakan pernyataan optimistis yang tampaknya berkaitan dengan kesepakatan perang.
Trump mengatakan dunia harus bersiap menghadapi "dua hari yang luar biasa", karena perang dengan Iran disebutnya sudah hampir berakhir.
Optimisme tersebut muncul bersamaan dengan dorongan baru terhadap jalur diplomasi.
Trump juga tampak memgapresiasi langkah Pakistan, dengan menyebutnya “kerja luar biasa” yang dilakukan Munir dalam memfasilitasi pembicaraan.
Trump pun menyebut para negosiatornya kemungkinan akan kembali ke Pakistan.
Meski begitu, blokade seluruh pelabuhan Iran masih diberlakukan oleh militer AS, dengan pasukan yang disebut tetap hadir, waspada, dan siap memastikan kepatuhan.




