Perayaan Mayday 2026: Tantangan Kecerdasan Buatan dan Kesehatan Mental Pekerja
Isu Nasional - RRI.CO.ID, Jakarta – Peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 menyoroti dua isu utama, yakni dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja dan pentingnya kesehatan mental pekerja. Kedua isu ini dinilai menjadi tantangan baru di tengah transformasi global.
Berdasarkan laporan berbagai lembaga internasional, termasuk Organisasi Buruh Internasional (ILO), perkembangan AI kini tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah mengubah struktur pekerjaan secara signifikan. Sekitar 300 juta pekerjaan di dunia diperkirakan terdampak otomatisasi, terutama di sektor administrasi, hukum, dan analisis.
Kondisi tersebut memunculkan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja dengan kemampuan hybrid, yakni kombinasi keterampilan teknis dan literasi AI. Tanpa peningkatan kapasitas, pekerja berisiko tertinggal dalam persaingan global.
Di sisi lain, serikat buruh mendorong konsep just transition atau transisi yang adil. Regulasi terhadap penggunaan AI, khususnya dalam manajemen berbasis algoritma, dinilai penting untuk mencegah meningkatnya ketimpangan sosial.
Selain isu teknologi, ILO pada 2026 juga mengangkat tema kesehatan mental melalui konsep healthy psychosocial working environment. Lingkungan kerja yang sehat secara psikologis dinilai sama pentingnya dengan keselamatan fisik.
Adopsi AI dinilai membawa risiko baru, seperti pemantauan berlebihan, peningkatan beban kerja kognitif, serta berkurangnya otonomi pekerja. Tekanan tersebut berpotensi memicu stres kerja yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Data global menunjukkan faktor risiko psikososial berkaitan dengan sekitar 840 ribu kematian per tahun akibat penyakit jantung dan gangguan mental yang dipicu stres kerja.
Di Indonesia, isu ini juga mulai mendapat perhatian, terutama terkait pekerja berbasis platform digital. Ketergantungan terhadap sistem algoritma menuntut adanya perlindungan kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Momentum Mayday 2026 menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seimbang dengan perlindungan hak pekerja. Kesejahteraan manusia tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi era digital.




