Perundingan AS-Iran di Islamabad Berlanjut, Isu Selat Hormuz dan Nuklir Masih Menghambat
Sumber Foto: Informasi.com
Isu Utama

Perundingan AS-Iran di Islamabad Berlanjut, Isu Selat Hormuz dan Nuklir Masih Menghambat

Ilustrasi perundingan Iran dan AS ditengahi Pakistan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat diperpanjang satu hari lagi dengan putaran lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Minggu (12/4/2026) di Islamabad, Pakistan. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim di tengah belum tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan sebelumnya.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa dialog tetap berjalan meskipun terdapat perbedaan pandangan di antara kedua pihak.

"Negosiasi akan terus berlanjut meskipun terdapat sejumlah perbedaan," kata pemerintah Iran melalui Telegram.

Pembicaraan ini bermula pada Sabtu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Teheran pada Rabu malam. Kesepakatan tersebut menjadi dasar dimulainya dialog langsung antara kedua negara.

Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dengan didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati. Sementara itu, delegasi AS dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance bersama utusan khusus Presiden Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Meski pertemuan berlangsung intensif, perundingan belum menghasilkan titik temu. Vance menyatakan bahwa ia kembali ke Washington tanpa membawa kesepakatan konkret.

“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan usai perundingan.

Negosiasi kemudian berlanjut ke hari kedua pada Minggu (12/4) di tengah kondisi gencatan senjata yang dinilai semakin rapuh. Salah satu isu utama yang menghambat kemajuan adalah perbedaan pandangan terkait status Selat Hormuz.

Laporan CNN mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa perubahan status Selat Hormuz hanya dapat dilakukan jika kedua negara mencapai “kerangka bersama” untuk melanjutkan negosiasi. Pejabat tersebut juga menilai tuntutan dari pihak AS menjadi penghambat proses dialog.

Di sisi lain, Vance menyampaikan bahwa pemerintah AS telah menunjukkan fleksibilitas selama pembicaraan. Ia menegaskan bahwa Washington telah menjelaskan batas kompromi secara terbuka kepada pihak Iran.

“Mereka telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” ujarnya kepada wartawan setelah pembicaraan.

Vance juga menyoroti isu pengembangan senjata nuklir sebagai bagian penting dalam negosiasi. Ia menilai komitmen jangka panjang dari Iran masih belum terlihat.

“Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang atau dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya,” kata Vance.