Serial Animasi Terminator Dihentikan Karena Penonton Minim
Isu Nasional - Merahputih.com - Kabar kurang menggembirakan datang dari film adaptasi. Serial animasi dewasa yang di adaptasi dari Film Terminator resmi dibatalkan dan tidak akan berlanjut ke musim berikutnya.
Kepastian ini akhirnya terungkap pada suatu pagi di bulan Februari, setelah lama menjadi bahan spekulasi penggemar.
Meski sempat muncul pernyataan keliru dari Netflix Amerika Latin yang menyebut serial tersebut akan diperbarui, sang kreator justru mengonfirmasi keputusan sebaliknya.
Melalui unggahan di platform X, Mattson Tomlin menyampaikan, secara terbuka serial ini tidak memenuhi angka penonton yang dibutuhkan untuk mendapat lampu hijau musim baru.
“Serial ini dibatalkan. Sambutan dari kritikus dan penonton sangat luar biasa, tetapi pada akhirnya tidak cukup banyak orang yang menontonnya,” tulis Tomlin.
Ia menambahkan, dirinya sebenarnya telah merancang cerita besar Future War untuk musim kedua dan ketiga. Namun, ia tetap puas karena serial ini berakhir dengan cerita yang terasa utuh dan terkendali.
Meski berumur singkat, serial animasi Terminator ini digarap oleh deretan nama besar di industri animasi dan film.
Proyek ini diproduksi oleh Production I.G, studio legendaris di balik karya-karya ikonik seperti Ghost in the Shell dan Psycho-Pass.
Mattson Tomlin sendiri dikenal luas sebagai penulis skenario The Batman Part II serta film aksi Project Power.
Sementara kursi sutradara diisi oleh Masashi Kudō, yang namanya melejit lewat keterlibatannya dalam serial anime Bleach.
Untuk urusan produksi, serial ini berada di bawah naungan Skydance Television, bekerja sama dengan Production I.G dan No Brakes, dengan Mattson Tomlin turut bertindak sebagai produser eksekutif.
Secara kualitas, serial animasi Terminator ini sebenarnya menuai respons positif dari kritikus maupun penggemar setia franchise.
Gaya visual khas anime, nuansa dewasa, serta pendekatan cerita yang lebih gelap dinilai memberi warna baru pada waralaba legendaris tersebut.
Namun, di tengah ketatnya persaingan konten di platform streaming, respons positif saja rupanya belum cukup.




