Tiga Isu Krusial Hambat Negosiasi AS-Iran Akhiri Perang
Sumber Foto: Serambinews.com
Isu Utama

Tiga Isu Krusial Hambat Negosiasi AS-Iran Akhiri Perang

Isu Nasional - Ringkasan Berita:

Pada fase pertama, selama 30 hari, Iran mengajukan perundingan untuk mengakhiri perang secara permanen di semua lini.

Yang dimaksud “semua lini” mencakup sekutu non-negara Iran di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon.

SERAMBINEWS.COM - Upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan terjal.

Tiga isu krusial, program nuklir Iran, kendali Selat Hormuz, dan masa depan Hizbullah, menjadi penghalang utama menuju kesepakatan.

Sumber-sumber Iran mengungkapkan bahwa Teheran membawa pendekatan tiga fase dalam negosiasi yang diusulkan.

Pada fase pertama, selama 30 hari, Iran mengajukan perundingan untuk mengakhiri perang secara permanen di semua lini. Yang dimaksud “semua lini” mencakup sekutu non-negara Iran di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon.

Namun, tuntutan ini langsung berbenturan dengan posisi Washington. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa masa depan Hizbullah tidak bisa ditentukan oleh Iran.

Pernyataan ini memperjelas batas keras yang sulit dinegosiasikan oleh AS.

Iran tetap bersikukuh. Menurut Teheran, “poros perlawanan”, sebutan bagi jaringan sekutu regionalnya, juga harus mendapatkan jaminan keamanan dan politik sebagai bagian dari kesepakatan menyeluruh.

Masalah tak berhenti di situ. Iran menuntut jaminan bahwa perang tidak akan berlanjut, dan jaminan tersebut, menurut mereka, harus dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB. Bagi AS, tuntutan ini menjadi persoalan serius karena menyangkut dinamika politik global dan veto negara-negara besar.

Isu berikutnya yang tak kalah sensitif adalah pencabutan blokade AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Namun Iran menegaskan bahwa lingkungan strategis telah berubah. Teheran menolak kembali ke situasi sebelum perang dan menyatakan akan mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz.

Sikap ini memicu kekhawatiran luas, tidak hanya di Washington, tetapi juga di banyak negara kawasan yang sangat bergantung pada stabilitas jalur laut tersebut.

Di sisi lain, Iran juga menutup pintu bagi tuntutan Barat terkait program nuklirnya. Teheran menegaskan tidak akan membongkar fasilitas nuklirnya dan menolak pengiriman uranium yang telah diperkaya ke luar negeri.

Ketiga isu inilah, Hizbullah, Selat Hormuz, dan uranium, yang kini menjadi simpul kebuntuan dalam diplomasi AS–Iran.

Rusia dan UEA Turun Tangan

Di tengah kebuntuan tersebut, diplomasi internasional bergerak. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri di Moskow, pembahasan difokuskan pada situasi di sekitar Selat Hormuz, termasuk kemungkinan membawa isu tersebut ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.