Tri Rismaharini Fokus pada Kesejahteraan Sosial di Pilgub Jatim 2024
Sumber Foto: Jawa Pos
Isu Utama

Tri Rismaharini Fokus pada Kesejahteraan Sosial di Pilgub Jatim 2024

RADAR SURABAYA - Pencalonan mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam kontestasi Pilgub Jatim 2024 bakal membawa banyak isu sosial yang belum terjawab hingga saat ini.

Perempuan yang sempat menjabat sebagai Menteri Sosial itu menyebut, di Jatim masih banyak permasalahan sosial yang perlu untuk segera mendapatkan intervensi.

Risma mengungkapkan, salah satu permasalahan yang tampak saat ini seperti banyaknya warga yang hingga hari ini masih terjebak di praktik Pekerja Migran Ilegal (PMI).

Menurut Risma, angkanya mencapai ratusan orang. Hal ini menunjukkan, permasalahan kesejahteraan ekonomi masih menjadi momok di Jatim.

"Sebetulnya kalau lihat ada TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), ada pekerja migran. Kemarin ada berapa ratus PMI-nya dari Jawa Timur," kata Risma pada awak media.

Belum lagi, Risma mengatakan, permasalahan kesehatan. Jawa Timur menurut dia angka penderita kusta sangat banyak.

Bahkan Jawa Timur menduduki peringkat satu terbanyak di Indonesia. Artinya, intervensi masalah kesehatan pun tidak bisa main-main penanganannya.

"Penyakit kusta itu angkanya cukup besar. Paling besar di Indonesia. Lalu ada juga stunting (yang butuh intervensi penug)," ucapnya.

Itulah kenapa, masalah kesejahteraan sosial ini sangat penting untuk dikedepankan dalam fokusnya di pencalonan ini.

Hal ini berkaitan antara satu topik dengan topik lainnya. Sebutlah semisal kesehatan, tentu berkaitan dengan faktor ekonomi. Lalu pendidikan dan infrastruktur.

"Saya nggak bisa kalau ngomong kesejahteraan, eh iya ciptakan lapangan pekerjaan. Bukan itu, tapi bagaimana seluruh sistem perekonomian itu betul-betul berjalan. Coba dicek berapa daerah yang masih banjir. Kalau banjir kemudian habisin pertanian. Kemarin juga banyak yang mengeluh pupuk juga," ujarnya.

Terkait pendidikan, dia juga mengungkapkan, di Jawa Timur masih banyak pesantren-pesantren kecil yang perlu untuk mendapat intervensi.

Mengapa demikian? Sebab, justru di pesantren-pesantren itu malah banyak ditemukan anak-anak yatim, anak orang miskin yang mereka hanya bisa bermimpi untuk bisa mendapat pendidikan yang layak.