UMY Kerja Sama dengan Kemlu untuk Tingkatkan Kapasitas Afghanistan
20:51
Situasi pasca-revolusi politik yang terjadi di Afghanistan pada tahun 2021, pasca-kekuasaan Taliban, memunculkan berbagai tantangan multidimensional bagi negara tersebut. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas institusi publik, termasuk dalam menghadapi isu perubahan iklim, pengelolaan keuangan mikro berbasis syariah, serta sistem peringatan dini bencana.
Berbekal pengalaman dalam implementasi kebijakan pada isu-isu tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Asia Selatan dan Tengah, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), akan menyelenggarakan agenda penguatan kapasitas bagi otoritas de facto Afghanistan. Agenda ini dijadwalkan berlangsung pada akhir Juni di Doha, Qatar, dan diawali dengan rapat persiapan bersama kementerian serta lembaga mitra, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Rapat tersebut digelar pada Senin (23/6) di kampus UMY.
Direktur Jenderal Asia Selatan dan Tengah, Jatmiko H. Prasetyo, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa terdapat dua isu utama yang menjadi fokus Kemlu dalam kerja sama ini, yakni penguatan kapasitas institusi pemerintah dan pengembangan ekonomi mikro. Prioritas tersebut diambil berdasarkan hasil pertemuan antara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan utusan khusus dari berbagai negara yang membahas arah kebijakan di Afghanistan. Salah satu hasilnya adalah kesepakatan pembentukan working group antara komunitas internasional dan otoritas Taliban.
“Dua isu ini memang menjadi kepentingan Taliban untuk diselesaikan, tetapi juga merupakan kebutuhan nyata masyarakat Afghanistan. Terutama dari aspek ekonomi, karena meskipun banyak menerima bantuan internasional, ketergantungan ini dapat memengaruhi stabilitas jangka panjang negara tersebut,” jelas Jatmiko.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kemlu melibatkan UMY sebagai mitra strategis dalam program sharing experience dan best practices yang akan diangkat dalam forum internasional bernama Doha Process. Peran UMY dalam kerja sama ini cukup penting, mengingat kampus ini telah menjadi fasilitator pendidikan tinggi bagi mahasiswa Afghanistan penerima beasiswa dari Pemerintah Indonesia.
Wakil Rektor UMY Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan, Ir. Slamet Riyadi, M.Sc., Ph.D., menyatakan bahwa pembangunan sumber daya manusia Afghanistan merupakan perhatian serius bagi UMY. Komitmen ini sejalan dengan visi UMY dalam mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat global.
“Kami ingin dampak dari kerja sama ini benar-benar dirasakan masyarakat internasional, termasuk masyarakat Afghanistan. Pemerintahan Taliban memiliki kepercayaan terhadap pendekatan religius Indonesia. Karena itu, UMY, dengan kekuatan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berbasis nilai-nilai Islam, siap menjadi jembatan diplomasi antara kedua negara,” ungkap Slamet.
Saat ini, Kemlu juga tengah menginisiasi program pengembangan UMKM di Afghanistan guna memperkuat stabilitas ekonomi mikro berbasis syariah. Dalam hal ini, UMY menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra aktif, khususnya melalui penguatan kapasitas berbasis riset dan pengabdian masyarakat dalam bidang kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi lokal.
“UMY siap mendukung pengembangan UMKM di Afghanistan melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan, baik secara keilmuan maupun praktis. Kami percaya kontribusi akademik dapat berperan besar dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” pungkas Slamet. (ID)




