Harga Minyak Dunia Stabil di Puncak Tertinggi Akibat Ketegangan Timur Tengah
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Harga Minyak Dunia Stabil di Puncak Tertinggi Akibat Ketegangan Timur Tengah

Isu Nasional - NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia relatif tidak berubah pada akhir perdagangan Rabu (4/3/2026) waktu setempat atau Kamis (5/3/2026) pagi WIB, dengan tetap bertahan pada level tertinggi dalam setahun terakhir di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup stagnan di level 81,40 dollar AS per barrel, sama dengan penutupan Selasa dan menjadi yang tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 10 sen atau 0,1 persen ke level 74,66 dollar AS per barrel, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Juni 2025 untuk hari kedua berturut-turut.

Analis Senior Pasar Tradu.com, Nikos Tzabouras mengatakan harga minyak tetap tinggi karena pasar menghadapi prospek perang berkepanjangan dan dibayangi gangguan pasokan minyak global.

"Harga minyak tetap tinggi karena pasar bergulat dengan prospek perang yang berkepanjangan dan gangguan pasokan yang masih bertahan," ujar Tzabouras.

Ia menambahkan, serangan militer AS yang diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, upaya Iran untuk memperluas konflik ke kawasan, serta penutupan Selat Hormuz berpotensi mengubah dinamika pasokan dan permintaan minyak global.

"Perkembangan ini dapat membalikkan dinamika penawaran-permintaan yang sebelumnya tidak menguntungkan, mendorong harga minyak mentah lebih tinggi dan membawa ke ambang batas 100 dollar AS," ucapnya.

Harga minyak mentah bergejolak pada perdagangan kemarin.

Mulanya di perdagangan pagi, harga Brent sempat melonjak lebih dari 3 dollar AS hingga menyentuh 84,48 dollar AS per barrel. Namun harga kemudian terkoreksi setelah laporan The New York Times menyebutkan pejabat Kementerian Intelijen Iran memberi sinyal kepada CIA terkait kemungkinan pembicaraan untuk mengakhiri perang.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan negaranya berada di atas angin dalam konflik melawan Iran dan militer AS siap bertempur selama diperlukan.

Sementara itu, serangan pasukan Israel dan AS ke berbagai target di Iran telah memicu serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan yang menyumbang hampir sepertiga produksi minyak global.

Bayangan gangguan pasokan minyak global juga dipengaruhi keputusan Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memangkas produksi hampir 1,5 juta barrel per hari akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan dan terhambatnya jalur ekspor.

Pejabat setempat bahkan menyebut produksi bisa dipangkas hingga hampir 3 juta barrel per hari dalam beberapa hari ke depan jika ekspor belum kembali normal.

Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga masih praktis tertutup.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu mengatakan, AS tengah menyusun rencana untuk mengamankan Selat Hormuz guna memastikan keselamatan kapal-kapal tanker minyak di tengah perang melawan Iran.

Ia menambahkan, Presiden AS Donald Trump bersama para penasihatnya juga membahas peran apa yang dapat diambil AS di Iran setelah kampanye militer tersebut berakhir.

Di tengah ketegangan itu, sejumlah negara dan perusahaan mulai mencari jalur alternatif serta sumber pasokan minyak mentah lainnya.

India dan Indonesia menyatakan sedang mengupayakan pasokan dari sumber berbeda, sementara beberapa kilang di China menghentikan operasi atau memajukan jadwal perawatan (maintenance). Meski begitu, Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menilai ketersediaan minyak sebenarnya masih cukup, termasuk dari penyimpanan terapung di kapal tanker.

"Pasokan global tetap melimpah dengan tingkat penyimpanan di kapal tanker yang mendekati rekor. Namun, hingga minyak tersebut bisa menemukan tujuan yang aman, volatilitas harga diperkirakan akan terus berlanjut," ujar Kissler.