Keterlambatan Penanganan Tingkatkan Risiko Kematian Akibat DBD
DEMAM berdarah dengue (DBD) menjadi penyakit yang cukup umum terjadi di Indonesia. Kasus penyakit ini pun semakin meningkat saat musim hujan tiba. Virus Nyamuk Aedes aegypti menjadi faktor penyakit yang akhirnya menginfeksi manusia.
Penyakit ini dikenal dapat berkembang dengan cepat dan menimbulkan kondisi berat dalam waktu singkat. Para dokter menilai, keterlambatan mengenali gejala dan mendapatkan penanganan medis masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat dengue.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Ginanjar menjelaskan bahwa banyak pasien dengue datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah memasuki fase berat. Padahal, pada fase awal, dengue masih bisa dikendalikan dengan pemantauan dan perawatan yang tepat. “Kematian dengue paling sering disebabkan karena pasien datang terlambat,” ujarnya pada awal Februari 2025.
Dokter Spesialis Penyakit dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Adityo Susilo mengungkapkan bahwa salah satu ciri khas infeksi virus dengue adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba. Dalam waktu kurang dari 12 jam, suhu tubuh pasien bisa meningkat hingga 39–40 derajat Celsius. Kondisi ini berbeda dengan demam akibat flu atau infeksi saluran pernapasan lain yang biasanya naik secara perlahan.
Selain demam tinggi mendadak, pasien dengue sering mengalami sakit kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, mual, muntah, serta penurunan nafsu makan yang signifikan. Pada orang dewasa, kondisi ini dapat membuat pasien tampak sangat lemas dalam waktu singkat, dari yang sebelumnya terlihat sehat menjadi tidak berdaya.
Banyak masyarakat masih keliru dalam memahami perbedaan antara demam dengue dan demam berdarah dengue. Padahal, kedua kondisi tersebut tidak dapat dibedakan hanya dari gejala klinis. Pemeriksaan laboratorium menjadi satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis dan menilai tingkat keparahan penyakit. “Yang membedakan adalah adanya kebocoran plasma, dan itu hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium seperti hematokrit,” kata Adityo.
Selain itu, pemeriksaan lanjutan juga diperlukan untuk melihat adanya cairan di rongga perut atau paru-paru, yang menjadi tanda dengue berat.
Fase kritis dengue menjadi periode yang paling berbahaya. Pada anak-anak, fase ini umumnya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-4 sejak munculnya demam. Sementara pada orang dewasa, fase kritis bisa terjadi antara hari ke-3 hingga ke-6. Banyak orang tua maupun pasien dewasa tidak memahami hitungan hari sakit, sehingga sering terlambat mencari pertolongan medis.
Dokter menegaskan bahwa dengue bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Virus dengue dapat memicu peradangan hebat secara tiba-tiba dan menyerang berbagai organ, termasuk hati. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi ini dapat berujung pada komplikasi berat hingga kematian.
Musim hujan memperbesar risiko penularan dengue karena meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti. Genangan air di lingkungan sekitar rumah menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap gejala dengue perlu ditingkatkan, terutama saat musim hujan.
Para dokter mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi mendadak disertai gejala lain seperti sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, mual, dan muntah. Deteksi dini dan penanganan cepat dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian akibat infeksi virus dengue.




