Pengunduran Diri Hadianto Rasyid dari Hanura Dinilai Ubah Peta Politik Sulawesi Tengah
Isu Nasional - Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, mengundurkan diri dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), suatu langkah yang dapat mempengaruhi konfigurasi kekuatan politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah 2030.
Awal Kejadian
Hadianto Rasyid, yang telah berkiprah di Hanura selama 18 tahun dan menjabat sebagai Ketua DPD Hanura Sulawesi Tengah, menyampaikan surat pengunduran diri kepada DPP Hanura pada awal Juni 2026. Wakil Ketua DPD Hanura Sulawesi Tengah, Frits Sem A. Kandori, membenarkan informasi tersebut dan menyatakan bahwa keputusan Hadianto tidak dipicu oleh konflik internal, meskipun disayangkan karena terjadi menjelang verifikasi politik yang penting bagi partai.
Perkembangan
Isu kedekatan Hadianto dengan Partai Gerindra mulai mengemuka, meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai langkah politik selanjutnya. Hadianto memiliki hubungan kekerabatan dengan Ketua DPD Gerindra Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, yang merupakan pamannya. Namun, Longki mengaku tidak mengetahui rencana politik Hadianto secara pasti.
Kondisi Terakhir
Pengunduran diri Hadianto berpotensi menjadi kerugian besar bagi Hanura, yang hanya memiliki satu kursi di DPRD provinsi, sementara Hadianto dipandang sebagai kepala daerah menonjol. Jika bergabung dengan Gerindra, Hadianto dapat memberikan tambahan dukungan politik yang signifikan, terutama dalam Pilkada mendatang. Meskipun Pilgub 2030 masih jauh, Hadianto dianggap sebagai salah satu figur potensial, bersaing dengan petahana Gubernur Anwar Hafid dan nama-nama lain yang akan muncul di arena politik Sulawesi Tengah.




